Saat semua telah berjalan dan waktu terus mengikuti setiap langkahku. Setiap guguran daun yang kulewati dikala senja. Semua menanyakan, sang angin, sang daun, sang tempat kita berpijak. Sampai kapan kau menunggu hujan di musim ini, musim ini musim kering yg hampir tag berair?
Aku bingung, aku tag bisa menjawabnya. Maafkan ak wahai yang kerap bertanya padaku ,, kau sangat tersiksa dengan smw ini...sama tersiksanya seperti batinku.. Aku hanya yakin bahwa hujan tetap akan turun pada musimnya, dan kita hanya bisa bersabar menunggunya seperti seseorang yang sedang tersiksa batinya akan menemukan obatnya di waktu yang tepat.
Mereka tertawa mendengar jawaban ku , jawaban yang memang melegakan jiwaku sendiri , jawaban yang menenangkan perasaanku tapi bukan pikiranku. " Kau terlalu bodoh !", katanya. Aku memang merasa sangat bodoh saat berusaha menutupi logikaku dengan keegoiisan perasaanku sendiri. Andaikan saja kamu tau rasanya bila berada di posisiku ?,tanyaku. Mereka menjawab lagi dengan semakin memakiku " Ah aku bisa merasakannya seperti jawaban analogimu yang pertama tadi " . Aku terperosok ke dalam jawaban yang kubuat sendiri.
Aku terlalu naif, naif sekali .hatiku terasa sesak. aku hanya bisa menghembuskan nafas perlahan dan kubuang karbondioksidaku. Pohon pun tanpa merasa berdosa bergumam lagi " Hey kamu, kau harus bisa seperti aku walau aku memang masih menunggu hujan tapi aku masih bisa mendapat embun, walaupun bagiku itu sangat sedikit tapi aku bersyukur malam masih mencintaiku , menjagaku hingga pagi meninggalkan embun sebagai cadanganku hingga malam kembali datang lagi, Tapi apa yang kubalas? ak tag bisa berikan apa- apa pada malam..padahal malam selalu menungguku sama seperti aku menunggu hujan . Kau tau kadang aku berfikir tidak ada salahnya aku membalas kebaikan malam, tapi takdir tag pernah memberi kesempatan pada kami, bagaimana tidak? saat aku terbangun dari tidur panjangku sang malam pergi meninggalkanku dan meninggalkan embun untukku , aku tag pernah bisa melihatnya . Aku telah dibutakan oleh penantianku selama ini. Sedang tuhan sedang menguji kesetiaanku pada hujan walau dalam penantian yang sangat panjang .."akan tetap bertemu di musimnya"...Jika seandainya hujan tetap tidak mau turun mungkin karena Tuhan tidak mengiginkanku menemui hujan dimusimnya . Dia berencana lain membelokkan takdirku hidup bersama matahari yang lebih indah dari hujan, lebih terang dr hujan, penyemangat hidup yang penuh kehangatan sebagai teman hidupku dikala pagi dan senja..forefer...hingga aku bersama sang buah hati kelak yang selalu ada di sekelilingku , dan dia Matahari yang memberi kehidupan kami."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar